Pernyataan Sri Mulyani Soal Guru Beban Negara, Mantan Anak Buah Beri Pembelaan

Menkeu – Sebuah video viral yang beredar di berbagai forum atau flatrom media sosial, menampilkkan menteri keuangan Sri Mulyani Indrawaty seolah-oleh menyatakan bahwa guru adalah “Beban Negara” telah memicu eaksi publik. Namun Kementrian Keuangan (Menkeu) dengan tegas membantah kebenarann tersebut, menegaskan bahwa infomasi yang di sajikan adalah hoaks.

Baca Juga: Morosi Bangun Generasi Sehat dan Cerdas Lewat Pendidikan Gratis dan Berkualitas

Kepala nova88 Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu RI, Deni Surjantoro, secara resmi mengklarifikasi bahwa potongan video tersebut tidak benar. Menurut Deni, Menteri Keuangan Sri Mulyani tidak pernah mengeluarkan pernyataan yang menyebut guru sebagai beban negara, melainkan justru menyoroti pentingnya profesi pendidik.

“Faktanya, Menteri Keuangan tidak pernah menyatakan bahwa Guru adalah Beban Negara,”kata dia Selasa (19/8/2025). “Video tersebut adalah hasil deepfake dan potongan tidak utuh dari pidato Menkeu, dalam forum Komvensi Sains, Teknologi, dan industri Indonesia ITB pada 7 Agustus lalu,”lanjut dia.

Dalam kesempatan lain mantan anak buah Sri Mulyani Yustinus Prastowo menyatakan bahwa pidato panjang dan bermas sekaligus visioner dari menkeu hanya di potong secuil dan jadi kesimpulan. Staf khsusu menteri keuangan bidang komunikasi startegis periode tahun 2020-2024 ini menyebutkan bahwa ia telah lama mengenal Sri Mulyani.

Menurut Prastowo Sri Mulyanilahir dan di besarkan di keluarga guru. “Bapak dan Ibu Beliau, Prof Dr, Satmoko dan Dr. Retno Simingsih, adalah dosen, bahkan mencapai jenjang guru besar. Beliau sering berkisah, betapa ibunya adalah seorang perempuan tangguh. Membesarkan sepuluh anak sambil melanjutkan kuliah hingga doktor,”tulis pras dalam Unggahan di Facebook.

Partisipasi Masyarakat

Kali ini menkeu sedang disalahpahami dan diffarming buruk. Hampir mustahil sri Mulyani punya maksud buruk kepada para dosen dan guru. “Saya tahu persis ia bergumul keras memikirkan cara untuk meningkatkan kesejahteraan dosen dan guru, namun, itu memang tak mudah.”jelas dia.

Ada alasan klise keterbatasan anggaran dan ruang fisikal. Pula isu pengukuran kinerja, agar yang berkinerja baik dan slot bet yang buruk tak di sampaikan begitu saja. lagi-lagi lawan Sri Mulyani adalah waktu. tak ada lagi kesabaran revolusioner untuk hal ini.

Jika bu SMI bilang ‘apakah semuanya harus keuangan negara’ Prastowo sangat yakin ia tidak sedang bicara norma. Itu semacam refleksi atas situasi yang tak ideal. Negara memiliki keterbatasan bukanlah penghindaran tanggung jawab. Maka imbuhannya adalah  ‘partisipasi masyarakat’ yang bentuknya bisa bermacam-macam.

“Di negara maju filantropi, CSR, investasi swasta bisa menjadi motor penggerak pendidikan. Jadi saya lebih memahami itu sebagai sebentuk undangan yang jujur, bahwa kita perlu berfikir keras dan cerdas, duduk bersama memikirkan solusi yang baik” jelas Prastowo.

Komitmen Anggaran Pendidikan dan Dukungan Negara

Sebagai wujud komitmen pemerintah terhadap sektor ibcbet pendidikan, Menteri keuangan mengungkapkan bahwa pada tahun 2025, pemerintah akan mengalokasikan anggaran pendidikan yang sangat besar. Total Anggaran yang di gelontorkan mencapai Rp 724,3 triliun, yang merupakan 20 persen dari total belamja negara.

Dana jumbo ini dalokasikan untuk berbagai program penting, termasuk gaji dan tunjangan bagi guru serta dosen. Selain itu, anggaran tersebut juga mendukung program-program seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) kuliah untuk 1,1 juta mahasisiwa dan Program Indonesia Pintar (PIP) untuk 20,4 juta siswa. Hal ini menegaskan bahwa pemerintah sangat memprioritaskan pendidikan dan kesejahteraan para pendidik.